Pages

Friday, August 1, 2008

Kepemimpinan: Puncak dosa atau puncak ibadah?

Politik dan kepemimpinan merupakan puncak ibadah dan sekaligus puncak dosa. kepemimpinan jelas akan berdampak luas pada kehidupan manusia: Sengsara atau bahagia, damai atau menderita, kesadaran atau kedurhakaan, kesombongan atau ketawadhuan, kearifan atau kebodohan, kesederhanaan atau kemewahan, dan lainnya.

Soal kepemimpinan, Allah swt menegaskan dalam firman-Nya bahwa kezaliman dalam soal kepemimpinan akan berdampak fatal terhadap misi Ilahi, bahkan Dia menyatakan bahwa jika terjadi kezaliman dalam kepemimpinan, maka akan berdampak kezaliman terhadap aspek misi Ilahi yang lain. Karena itulah Allah swt berfirman:

يَأَيهَا الرَّسولُ بَلِّغْ مَا أُنزِلَ إِلَيْك مِن رَّبِّك وَ إِن لَّمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْت رِسالَتَهُ وَ اللَّهُ يَعْصِمُك مِنَ النَّاسِ إِنَّ اللَّهَ لا يهْدِى الْقَوْمَ الْكَفِرِينَ‏

“Wahai Rasul, sampaikan apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu, dan jika kamu tidak melakukan berarti kamu tidak menyampaikan risalah-Nya. Allah menjagamu dari bahaya manusia, sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir” (Al-Maidah: 67)

Ayat ini menegaskan bahwa kepemimpinan itu merupakan puncak misi Ilahi, sehingga jika misi ini gagal maka tak akan bermakna misi yang lain. Bahkan simbol-simbol keislaman akan dimanfaatkan untuk kepentingan-kepentingan pribadi dan menyengsarakan kehidupan manusia, khususnya rakyat kecil, bahkan membingungkan dan menyesatkan umat.

Tentang bahwa ayat ini diturunkan untuk mempertegas soal kepemimpinan, silahkan rujuk:
1. Ad-Durrul Mantsur 2: 298
2. Syawahid At-Tanzil jilid 1 halaman 157, hadis ke 221.
3. Tarikh Damsyiq Ibnu Asakir jilid 2 halaman 85, cetakan pertama, hadis ke 585 dan 586.
4. Asbabun Nuzul Al-Wahidi, halaman 115 cet. Al-Halabi Mesir; halaman 150 cet. Al-Hindiyah Mesir.
5. Tafsir Al-Kabir Fakhur Razi, jilid 12 halaman 50 cet. Mesir 1375 H; jilid 3 halaman 637 cet. Ad-Dar Al-Amirah Mesir.
6. Tafsir Fathul Qadir Asy-Syaukani, jilid 2 halaman 60 cet Al-Halabi;
7. 3. Tafsir Al-Mizan jilid 6 halaman 45.

Lebih detail bahwa ayat ini berkait dengan persoalan kepemimpinan, silahkan klik di bagian Asbab Nuzul:
http://tafsirtematis.wordpress.com


Di dalam ayat yang lain Allah swt mengisyaratkan bahwa siapa saja yang tidak menggabungkan dirinya dengan kesempurnaan agama dan kepemimpinan Allah dan Rasul-Nya, Allah swt tidak ridha ia beragama Islam. Perhatikan makna firman Allah swt secara cermat dan teliti:

الْيَوْمَ أَكْمَلْت لَكُمْ دِينَكُمْ وَ أَتمَمْت عَلَيْكُمْ نِعْمَتى وَ رَضِيت لَكُمُ الاسلامَ دِيناً

“Hari ini Aku sumpurnakan agamamu dan Kulengkapi nikmatku, dan Aku ridha kepadamu Islam sebagai agama.” (Al-Maidah: 3).
Tentang bahwa ayat ini diturunkan untuk mempertegas soal kepemimpinan, silahkan rujuk:

1. Ad-Durrul Mantsur 2: 525
2. Tafsir Al-Mizan, oleh Allamah Thabathaba’, tentang ayat ini.

Pertanyaannya mengapa Allah swt menegaskan betapa pentingnya kepemimpinan? Jawabannya jelas, secara argumen faktual, dalil tektual dan rasional. Kenyataan yang kita saksikan dan kita rasakan sekarang ini menjadi salah satu bukti kebenaran dua ayat tersebut.

Di Alam Demokrasi
Alam demokrasi yang mewarnai kehidupan kita sekarang ini tidak berarti kita terlepas dari pertanggungan jawab di Mahkamah Ilahi kelak di hari kiamat. Siapa yang kita pilih sebagai pemimpin? Apa akibat pemimpin yang kita pilih terhadap kehidupan manusia dan rakyat kecil? Kebahagiaan atau kesengsaraan, kedamaian atau penderitaan, kesadaran atau kedurjanaan, makin semaraknya kemaksiatan atau ketaatan? Semuanya kembali pada kita sebagai pemilihnya.

Jika beralasan, kita tidak tahu secara pasti kualitas calon pemimpin, mengapa kita memilihnya? Bukankah Allah dan Rasul-Nya menegaskan bahwa persoalaan pemimpin bukan persoalan yang sederhana, tetapi puncak persoalan. Sehingga jika kita salah pilih, maka dapat menyengsarakan ratusan juta manusia, dan menjerumuskan kita pada penderitaan di dunia dan akhirat, sehingga kelak dicampakkan ke neraka yang abadi, na’udzubillah.

Sejak Nabi Adam hingga Rasulullah saw selalu berhadapan antara keadilan dan kezaliman, kebenaran dan kebatilan. Tidak ada di antara keduanya. Lalu bagaimana kita menyikapi dunia politik yang sedang semarak di negeri kita? Kita harus super waspada dan hati-hati. Karena persoalan politik bukanlah persoalan yang sederhana, ia merupakan puncak dosa yang sangat sulit diampuni dan dibukakan pintu taubat, jika ternyata politik itu menyengsarakan dan menyesatkan ratusan juta manusia.

Sehubungan dengan politik dan kepemimpinan di alam demokrasi, sikap apa yang paling aman bagi kita dari puncak dosa dan murka Allah swt? Jawabannya ada dalam akal sehat dan nurani kita. Dan sebaiknya kita mempelajari secara sungguh-sungguh tentang kreteria seorang pemimpin menurut Allah dan Rasul-Nya, agar kita selamat dari murka-Nya di dunia dan akhirat.

Wassalam
Syamsuri Rifai


Macam2 shalat sunnah, doa-doa pilihan, dunia anak dan artikel Islami:
http://syamsuri149.wordpress.com
http://shalatdoa.blogspot.com

Amalan Praktis harian dan Bulanan, dan doa2 pilihan:
http://islampraktis.wordpress.com

Tafsir tematik, keutamaan surat2 dan ayat2 Al-Qur’an:
http://tafsirtematis.wordpress.com

Audio shalawat tarhim, doa dan musik2 ruhani (mp3), dilengkapi tek narasi:
http://syamsuri149.multiply.com

Amalan praktis, Adab2 dan doa2 haji dan umroh:
http://almushthafa.blogspot.com

Milis keluarga bahagia, dunia anak dan artikel2 Islami, macam2 shalat sunnah, amalan2 praktis dan doa-doa pilihan:
http://groups.google.com/group/keluarga-bahagia
http://groups.yahoo.com/group/Shalat-Doa

Milis Feng Shui Islami, rahasia huruf dan angka, nama dan kelahiran, rumus2 penting lainnya, dan doa2 khusus:
http://groups.google.co.id/group/feng-shui-islami

1 comment:

infogue said...

artikel anda :

http://politik.infogue.com/
http://politik.infogue.com/kepemimpinan_puncak_dosa_atau_puncak_ibadah_

promosikan artikel anda di www.infogue.com dan jadikan artikel anda yang terbaik dan terpopuler menurut pembaca.salam blogger!!!

Followers