Pages

Wednesday, April 30, 2008

Perang Dahsyat Pasukan Akal dan Pasukan Kejahilan

Setiap hari bahkan setiap saat dua kubu pasukan ini melakukan peperangan yang dahsyat. Mereka bertempur tak kenal lelah di medan pertempuran pilihan. Dahsyatnya peperangan ini tak tertandingi oleh peperangan manapun di dunia.

Tidak sedikit manusia menjadi korban peperangan ini. Kecanggihan senjatanya tak dapat diungguli oleh senjata manapun, perangkatnya paling lunak dari semua perangkat lunak, tehnologinya paling mutaakhkhir dari semua tehlonogi yang paling modern.

Bagaimana tidak? Senjata apapun mutaakhkhirnya, korbannya tentu merasakan langsung penderitaannya. Berbeda dengan senjata pasukan ini. Mereka menghancurkan manusia tanpa merasakan kalau ia dibinasakan.

Mengapa peperangan yang dahsyat ini tidak kita rasakan? Apakah karena mereka menggunakan perangkat yang paling lunak dan tehnologi yang paling canggih? Dan dimanakah mereka berperang?
Medan tempurnya adalah diri kita, perangkatnya perangkat kita, tehnologinya tehnologi kita. Ala kulli hal, mereka menggunakan semua perangkat, energi dan potensi kita.

Semakin canggih perangkat dan fasilitas yang kita miliki semakin hebat cara mereka melumpuhkan kita. Tanpa pertolongan Allah dan akal berikut pasukannya, kita tak akan mampu menyelamatkan diri pasukan kejahilan dan kejahilannya. Mengapa? Karena semua it berada dalam diri kita dan inheren dengan diri kita.

Akal memiliki 75 pasukan dan Kejahilan juga memiliki 75 pasukan. Masing-masing pasukan dari kedua kubu ini saling berhadapan bagaikan pasukan berkuda yang telah menghunus pedangnya dari sarungnya. Pasukan akal dilumpuhkan oleh pasukan kejahilan. Sehingga akal tak berdaya lagi. Tak mampu membedakan yang benar dan yang salah, yang haq dan yang batil. Tak mampu lagi mensuarakan keadilan apalagi menegakkannya.

Wahai akal dimanakan engkau? Mengapa engkau diam saja? Sementara si miskin menangis, si lemah menjerit, dan yang tak berdaya merinih, mereka tak sanggup memikul beban penderitaan, yang semakin hari semakin menghimpit kehidupan mereka. Kebenaran disingkirkan, kebatilan ditampakkan, keadilan dilumpuhkan dan kezaliman disebar-luaskan.

Wahai akal bukankah engkau panglima Ilahi? Mengapa engkau dan pasukannya dilumpuhkan oleh kejahilan dan pasukannya? Apakah engkau sedang menunggu hadirnya kekasihmu untuk sama-sama berjuang menegakkan keadilan dan kebenaran, melumpuhkan dan menghancurkan kejahilan dan pasukannya.

Suma'ah bin Mahran berkata: Pada suatu hari aku pernah hadir di majlis Imam Ja'far Ash-Shadiq (sa). Di sana juga hadir murid-muridnya yang lain. Beliau membicarakan tentang Akal dan Kejahilan. Kemudian Imam Ja'far (sa) berkata: "Kenalilah akal dan pasukannya serta kejahilan dan pasukannya, niscaya kalian akan mendapat petunjuk."

Sama'ah berkata: Jadikan diriku tebusanmu, kami tidak akan mengenalnya kecuali engkau perkenalkan kami tentangnya.

Kemudian Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) berkata: “Sesungguhnya Allah Yang Maha Agung menciptakatan akal sebagai makhluk ruhaniah pertama. Saat itu akal berada di samping kanan Arasy, ia diciptakan dari cahaya-Nya. Kemudian Allah berfirman padanya: menghadaplah pada-Ku, ia pun menghadap pada-Nya. Lalu Allah berfirman: berpalinglah, ia pun berpaling. Selanjutnya Allah berfirman: Kuciptakan kamu sebagai makhluk yang agung, Aku muliakan kamu di atas semua makhluk-Ku.

Kemudian Allah menciptakan kejahilan dari laut yang diliputi kegelapan. Lalu Allah menyuruhnya berpaling, ia pun berpaling. Kemudian menyuruhnya menghadap, tapi ia tidak mau menghadap-Nya. Maka Allah berfirman padanya: Kamu sombong! Kemudian mengutuknya.

Selanjutnya Allah menciptakan 75 pasukan akal. Melihat hal itu dengan sifat dengki dan permusuhan kejahilan berkata: Tuhan, akal adalah makhluk-Mu sebagaimana aku juga makhluk-Mu: mengapa Engkau muliakan dia dengan kekuatan sementara aku sebagai lawannya tidak memilikinya? Berikan padaku kekuatan seperti dia. Maka Allah berfirman: Baiklah. Tapi, jika kamu dan pasukanmu bermaksiat pada-Ku, Aku akan keluarkan kalian dari rahmat-Ku. Kejahilan menjawab: Aku terima janji itu. Kemudian Allah menciptakan baginya 75 pasukan. Pasukan akal dan pasukan kejahilan sebagai berikut:

Pasukan Akal dan Pasukan Kejahilan
1 Kebajikan (menteri akal) Kejahatan (menteri kejahilan)
2 Keimanan - kekufuran
3 Harapan (raja’) - Putus asa (qunuth)
4 Keadilan (‘adl) - Kezaliman (zhulm)
5 Ridha terhadap takdir (ridha) - Marah terhadap takdir (sukhth)
6 Rasa terima kasih (syukr) - Kufur nikmat (kufr)
7 Pasrah (tawakkal) - Ambisius (harsh)
8 Keperdulian (ra’fah) - Tak perduli (ghirrah)
9 Pengetahuan (‘ilm) - Kebodohan (jahl)
10 Kesucian, jaga diri (‘iffah) - Kecerobohan (tahattuk)
11 Zuhud (zuhd) - Cinta dunia (raghbah)
12 Sopan (rifq) - Kasar (kharq)
13 Waspada (rahbah) Gegabah (jur’ah)
14 Rendah hati (tawadhu’) - Sombong (takabbur)
15 Kalem (ta’uddah) - Tergesa-gesa (tasarru’)
16 Menahan emosi (hilm) - Tak sopan, gemar memaki (safah)
17 Pendiam (shamt) - Banyak bicara, cerewet (hadzar)
18 Patuh pada Allah (istislam) - Bangga diri, sombong (istikbar)
19 Patuh pada pemimpin yang benar (taslim) - Arogan (tajabbur)
20 Pemaaf (‘afwu) - Kedengkian (hiqd)
21 Lembut hati (riqqah) - Keras hati (qaswah)
22 Keyakinan (yaqin) - Keraguan (syak)
23 Kesabaran (shabr) - Meronta (jaza’)
24 Lapang dada (shafh) - Pendendam (intiqam)
25 Kaya hati (ghina) - Fakir hati (faqr)
26 Merenung (tafakkur) - Lalai (sahw)
27 Hafal (hifzh) - Lupa (nisyan)
28 Penyambung (ta’aththuf) - Pemutus (qathi’ah)
29 Rasa nerima (qana’ah) - Rakus (hirsh)
30 Persamaan (musawat) - nutup diri (man’u)
31 Cinta-kasih (mawaddah) - Permusuhan (‘adawah)
32 Memenuhi janji (wafa’) - Tidak memenuhi janji (ghadar)
33 Ketaatan (tha’ah) - Kemaksiatan (ma’shiyah)
34 Rendah hati (khudu’) - Arogansi (tathawwur)
35 Kedamaian (salamah) - Bencana (bala’)
36 Cinta (hubb) - Marah (ghadhab)
37 Kejujuran (shidq) - Kebohongan (kidzb)
38 Kebenaran (haqq) - Kebatilan (bathil)
39 Amanat (amanah) - Khianat (khiyanah)
40 Ketulusan (ikhlash) - Kemusyrikan dalam hati (syaub)
41 Cekatan (syahamah) - Lamban (baladah)
42 Kepandaian (fahm) - Ketololan (ghabawah)
43 Pengenalan (ma’rifah) - Penyangkalan (inkar)
44 Pengendalian, keteraturan (madarah) - Perdebatan kasar (mukhasyanah)
45 Menjaga keselamatan orang lain - Melakukan makar (mumakarah)
46 Menyimpan rahasia (kitman) - Menyebarkan rahasia (ifsya’)
47 Menegakkan salat (shalah) - Penyia-nyiaan (idha’ah)
48 Berpuasa (shiyam) - Tidak puasa (ifthar)
49 Perjuangan (jihad) - Lari dari perjuangan (nukul)
50 Melaksanakan haji (hajj) - Melanggar perjanjian (nabdzul mitsaq)
51 Menjaga lisan - Mengadu-domba (namimah)
52 Berbakti pada orang tua (birrul walidayn) - Durhaka ('uquq)
53 Makruf (ma'ruf) - Mungkar (munkar)
54 Menutu aurat (satr) - Bersolek (tabarruj)
55 Menjaga diri (taqiyyah) - Mengubral pembicaraan (idza'ah)
56 Keseimbangan (inshaf) - Fanatik (hamiyyah)
57 Perkhidmatan (mihnah) - Kedurjanaan (baghyu)
58 Bersih (nazhafah) - Kotor (qadzir)
59 Malu (haya') - Bugil (khal'u)
60 Terarah (qashd) - Permusuhan ('udwan)
61 Rileks (rahah) - Kelelahan (ta'ab)
62 Kemudahan (suhulah) - Kesulitan (shu'ubah)
63 Keberkahan (barakah) - Kebinasaan (mahq)
64 Menjaga keseimbangan (qiwam) - Berlebihan (mukasarah)
65 Kebijaksanaan (hikmah) - Hawa nafsu (hawa)
66 Tangguh, kokoh terhadap beban (waqar) - Rapuh, lemah terhadap beban (khiffah)
67 bahagia (sa'adah) - Nestapa (syaqawah)
68 Taubat (tawbah) Keras kepala (ishrar)
69 Memohon ampun (istighfar) - Terpedaya (ightirar)
70 Menjaga waktu-waktu ibadah (muhafazhah) - Mengakhirkannya (tahawun)
71 Berdoa (du'a) - Angkuh, sombong (istinkaf)
72 Rajin (nasysyath) - Malas (kasal)
73 Kebahagiaan (farh) - Kesedihan (huzn)
74 Persahabatan (ulfah) - Perpecahan (firqah)
75 Dermawan (sakha') - Kikir (bukhl)

Semua sikap pasukan akal tersebut tidak akan menyatu kecuali pada diri seorang Nabi atau washi (penerus)nya atau seorang mukmin yang hatinya telah lulus dalam ujian. Adapun selain mereka, ia hanya memiliki sebagian pasukan ini, kemudian ia menyempurnakan jiwanya dengan pasukan akal sambil mewaspadai pasukan kejahilan. Ketika itulah ia akan mencapai derajat yang tinggi bersama para Nabi dan para washinya (sa). Tentunya sebelumnya ia harus mengenal keberuntungan melalui pengenalan akal dan pasukannya serta menjauhi kejahilan dan pasukannya. Semoga Allah membimbing kita untuk mentaati-Nya dan mencapai ridha-Nya." (Biharul Anwar 1: 109-111).

Saya menerjemahkan hadis ini berdasarkan penjelasan Allamah Al-Majlisi dalam kitabnya Al-Bihar.
Hadis ini sangat luas dan dalam maknanya. Karena itu, untuk memahami secara detail makna dari setiap istilah tersebut kita perlu mengikuti penjelasan para ulama yang membidanginya dalam kitab-kitabnya.

Salam wa Rahmah
Syamsuri Rifai

No comments:

Followers